Experience
Alhamdulillah, hadeeeh, alhamdulillah.
As is sebagai makhluk penyandang nama manusia rasa malas selalu ada, bahkan kadang sampai bersahabat entah memang karna dipelihara atau banyaknya urusan sehingga menulis desas-desus kepala tak lagi sempat.
Atas nama manusia tentu kita pasti punya pengalaman dari berbagai macam urusan, fyi pengalaman terbagi menjadi dua yaitu : hushuli dan hudhuri. Selengkapnya bisa cari di bab lain halaman blogspot ini.
Pengalaman adalah teman terbaik manusia untuk mempertimbangkan antara sesuatu dan sesuatu lainnya. Semakin menua manusia tentu saja pengalaman juga akan bertambah terlepas dari sensitif pun sensible. Pengalaman bisa memberi sebuah pengetahuan, kemudian beralih satu tingkat membentuk suatu pribadi baru walaupun dibutuhkan waktu lebih (per-person) pelajaran - pelajaran berharga semacam ini tidak (semua) bisa kita ketahui dari bentuk eksistensi, sebagaimana hal yang berharga tidak selalu memiliki entitas beberapa tercipta dari representasi.
Bertambahnya pengalaman sangat berdampak pada diri sendiri tentunya bahkan juga lingkungan, terutama untuk ego-ego sektoral hahaha.
Tulisan ini saya persembahkan untuk seseorang yang mampu memporak-porandakan pengalaman saya beberapa tahun lamanya.
Suatu waktu dibawah indahnya langit tak kalah indah seorang wanita dengan pendirian matang dan tidak seperti kebanyakan orang.
Suara kaki berlalu - lalang, tiba-tiba ada seorang wanita duduk disamping saya dan memulai percakapan.
(sejujurnya saya risih karna pada saat itu sedang membaca buku)
Ia berbicara tentang buku dan rasa risih itupun hilang seketika, ingat sekali kala itu bagaimana dia menjelaskan (Badiuz zaman said nursi) nama tokoh dalam buku. Kemudian kami berbagi sudut pandang tentang ina, ini, dan itu. Siapa sangka pertemuan singkat sederhana menjadi alasan kami berteman hingga selesai nguli.
Sesekali dia menghubungi saya melalui medsos, tak jarang membahas buku serta rekomendasi sekaligus menjadi teman berdialog, pelan tapi pasti kepercayaan nya tumbuh, ia mulai bercerita banyak hal tentu saja dari awal gemar membaca sampai sekarang (kinda).
Waktu luang sangat penting untuk manusia, entah sebagai rehat sejenak dari berisik nya dunia atau untuk istirahat menghadapi kenyataan yang seringkali tak sejalan.
Akhir pekan selalu menjadi pilihan terbaik, tibalah saat dimana ajakan untuk bertukar cerita itu tiba (ngopi/ngops/nongki/nongs), dia mengajak saya untuk bertemu disebuah cafe, singkatnya dia memulai dari perjalanan tentang menjadi pilihan oleh seorang laki-laki, semakin lama seorang berjalan bersama pasti kita akan mengetahui dan menemukan beberapa hal yang mungkin tidak kita ekspektasi kan.
Berdasarkan perspektif saya, hubungan mereka baik-baik saja tidak ada hal yang membuat subjek dan objek berbeda pendapat atau bahkan saling merasa benar sendiri, for real no problem.
Sebenarnya saya enggan untuk bertanya karna label kepo sebagai konsekuensi, tetapi jika diam saja terkesan bahwa saya apatis, jadi resiko tetap saya ambil dengan menanyakan apa yang menjadi dasar hubungan mereka berhenti.
Tanpa basa-basi dia menjawab dengan keyakinan penuh, karna si cowo miskin.
Saya tertegun, mungkin memang beberapa wanita menjalin hubungan atas dasar materi tetapi sedikitpun tak ada penilaian itu dalam sosok yang saya ajak bicara ini. Benar-benar anjaaaay 😂 saya diam tidak bisa ber-words-words.
Anehnya dia juga diam, menunggu respon atau entah apa saja, beberapa saat kemudian akhirnya pertanyaan muncul. Saya memberikan sebuah konklusi yang terbilang berangkat dari sentimen ; bukankah seharusnya atau dari awal jika memang materi sebagai parameter hubungan bisa dilihat dari jauh? Artinya tidak sampai sejauh ini dan baru tau?
Kemudian dia berkata : dia miskin, dia tidak punya apa-apa selain uang.
Seperti kayu yang jika digeser tidak bergerak (terpaku) saya terdiam, seketika ucapan sederhana itu mengacaukan jiwa.
Maksud saya DEEEEM, entahlah tulisan apa lagi yang mampu mendeskripsikan ucapan sederhana yang sebetulnya tidak sederhana itu.
Komentar
Posting Komentar