Sisi sebelah
Yo, pantai!
Lama sekali saya tidak menulis, bukan karena tidak ada ide, gagasan, atau semacamnya. Tetapi, memang sengaja ditahan agar ketika sudah menulis lebih berasa.
You know lah ya. Ikuzoo
Dari se sedikitnya buku yang saya baca, banyak sekali pelajaran, manfaat, bahkan hikmah serta kelanjutan - kelanjutan yang saya dapatkan ; bisa menilai, menentukan, dan mengamati berbagai fenomena dari sisi sebelah.
Sisi sebelah artinya tidak sama dengan kebanyakan orang, atau tidak umum. Ini wajar hanya saja sedikit berbeda.
Buku adalah bahan mentah pun komposisi dari sebuah produk yang kita sebut saja wisdom.
Bahan mentah tentunya perlu untuk diolah kembali sehingga menjadi sebuah produk, right?
Contoh : kotoran kambing bisa kita olah menjadi pupuk dan manfaatnya justru dapat meningkatkan kesuburan tanah.
Nah, peralihan sensitif (kotoran) menjadi sensible (pupuk) sangat-sangat bisa kita upayakan, dengan garis bawah mau kita kelola.
Tidak beda jauh dengan buku, sebagai bahan mentah sudah seharusnya kita kelola untuk menjadi sebuah produk yang kita sebut wisdom tadi. Bagaimana sebuah buku dapat menggeser dari sensitif menjadi sensible.
Pada dasarnya, buku merupakan sebuah tawaran dari penulis dalam menyampaikan ide, gagasan, implisit, dan semacamnya.
Lalu apa pentingnya jika kita tidak mengenal
"sisi sebelah"?
Sederhananya akan ada dua tanggapan dalam satu permasalahan yang sama, for example :
A ; "Dunia ini benar-benar melelahkan, semoga tetap kuat menahan ujian dunia yang fana ini."
B ; "Aku mencintai dunia karena dengan adanya ia, aku bisa mengenal yang lain dan yang Lainnya.
Other examples : tahun lalu beredar informasi seorang wanita (Martha) asal Medellin, Columbia. Memiliki 20 anak dengan ayah yang masing-masing berbeda.
Kalau kita kaji dengan sudut pandang orang umum, tentu saja label pelacur tidak akan jauh. Tetapi, ada satu lagi sudut pandang yang sepertinya tidak terlalu menarik perhatian ; ia tidak meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Ya, kita selalu dan pasti diberikan hidangan antara A dan B, tinggal implementasi kita saja untuk menentukan jalan yang akan kita pilih.
Kang maman dalam buku "Re dan Perempuan"
Re adalah seorang pelacur, tapi ketika dia berdo'a dia menempatkan posisinya sangat indah ; "Aku berdoa sebagai ibu kepada anaknya. Bukan sebagai pelacur."
So, jangan mempersempit atau memelihara pragmatism. Membaca bukan sekadar kata kerja yang mengikuti arah abjad tanpa mempertimbangkan apa dibalik itu.
Bung karno dalam Marhaenisme : "Don't taken for granted."
#Abcdfvck
Komentar
Posting Komentar