Human Poor

Sebagai manusia yang normal berpikir adalah satu poin penting untuk menduduki kata *normal* tersebut sebagaimana hadist : "Al insanu hayawanun nathiq" artinya ; manusia adalah hewan yang berpikir. 

Suatu ketika matahari tak lagi terlihat alam pun sunyi, pernah sekelebat pertanyaan datang bertamu ke kantorku. Begitulah, kepalaku adalah kantor paling sibuk, dia tidak berpenghuni tapi, selalu ramai. Dawuh alm. Jokpin jogja. 

Kenapa manusia tidak saling mengerti?
Bagaimana bisa manusia salah paham?
Apa dasarnya a dikatakan b oleh c? 

Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence mengafirmasi bahwa Human memiliki IQ, EQ, dan SQ. 

IQ : "Intelligence Quotient" atau dalam bahasa Indonesia disebut "Kecerdasan Intelektual". IQ bisa dibilang alat untuk mengukur kemampuan kognitif seseorang, seperti kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, dan memahami informasi.

EQ :  "Emotional Quotient" atau dalam bahasa Indonesia disebut "Kecerdasan Emosi". EQ sendiri ialah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. 

SQ : "Spiritual Quotient" atau dalam bahasa Indonesia disebut "Kecerdasan Spiritual". SQ sebagaimana pengucapannya yaitu spiritual tentunya memiliki afiliasi dengan transendensi.

Selanjutnya mengenai pertanyaan di atas, apa yg membuat manusia saling tidak memahami satu sama lain. Sporadis saat A berbicara tentang EQ si B menanggapi hal tersebut berdasarkan sudut pandang IQ. Nah kejadian semacam itu tentu dapat membentuk suatu mis-interpretasi yg pada akhirnya dan kemudian menimbulkan salah paham. 

Sebagai contoh : jika seseorang menggunakan barang sebagai bahan untuk dipertontonkan bisa saja dia melakukan hal tersebut berdasarkan keinginan semata, tetapi jika kita melihat dari sudut pandang yg berbeda maka kesimpulan satu-satunya menyatakan bahwa org tersebut sombong karna kita menggunakan rasa iri sebagai landasan untuk memberikan tanggapan atau kesimpulan. 

Sedangkan menurut Arthur Schopenhauer seorang filsuf jerman yg juga terkemuka mengenai Life and Human menetapkan perbedaan pola pikir manusia terbentuk dari hereditas atau faktor keturunan, gen, dan alami-alamiahnya. 
Kemudian teori pesimisme dari John Locke menambah kelengkapan atas pernyataan dan pertanyaan about Human. 
John Locke menyatakan salah satu bagian penting dari pola pikir adalah lingkungan yang serta-merta membawa pengalaman-pengalaman kemudian berangkat menjadi pengetahuan lalu membentuk pola pikir. 

For Example : apabila kita hidup dan berkembang dalam sebuah ruang lingkup yg itu-itu saja, maka kedepannya pun demikian. Tidak ada hal baru, tak ada kemajuan, stagnan, dll, dst. Kemauan yg kuat hanya sekadar menjadi kemauan saja apabila tidak di realisasikan, seperti org tenggelam dia ingin pergi ke darat atau pesisir tapi tidak berupaya untuk berenang. What happen? Bulshit, omong kosong. 

Terdengar kasar dan tidak sopan tapi, begitulah adanya. 
Menjadi manusia di era sekarang harus benar-benar pandai menilai lawan kita berbicara dengan atau atas dasar apa, agar ketika ia memulai dan mengakhirinya kita bukan dari sebagian org yg menyedihkan. 
Dibalik kata menyedihkan tersebut terdapat; Bodoh, Tolol, Tidak mengerti, Tidak berpengalaman dan hal buruk lainnya. Sudahlah manusia memang begitu.

#Abcdfvck

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer