pasar buku

Buku adalah jendela dunia. 
begitulah ungkapan tersirat dengan berbagai macam makna yg diberikan sebagai interpretasi dari kata-kata diatas. buku menjadi salah satu bahan untuk mendapatkan informasi entah itu apa saja tergantung pada peminat baca, dengan membaca beberapa buku secara konsisten mampu meningkatkan daya kinerja dan pekka otak hal itu saya rasakan sendiri. 

suatu ketika saya pergi ke pasar buku wilis bersama teman saya sebut saja A. ada salah satu penjual yg memang bersahabat dengan kebanyakan para pembeli buku selain buku-bukunya yg lengkap penjual tersebut juga bisa dan tidak kaku ketika membahas isu-isu ikhwal politik, sosial, dll. mungkin dari karakteristik itulah penjual tadi menjadi terlihat lebih cocok dan pas untuk dijadikan referensi dalam melihat berbagai macam permasalahan. 

singkat cerita ditengah" perbincangan hangat mengenai BAB politik yg menggebu-gebu dan terkesan sadis teman saya membengkokkan alur pembicaraan tadi menjadi tentang perasaan. adapun argumentasi dari penjual itu (sebut saja B) memberi sedikit perspektif tentang apa itu sebuah perasaan, ia menyatakan ; ada 4 tahap sebenarnya 
1. suka
2. empati
3. sayang
4. cinta
kejelasannya diberikan yaitu jangan terlalu gampang menyebut kata cinta itu, bukan karna sakral tidak tetapi agar ketika kamu jatuh tidak berlarut-larut, aku dan temanku saling memandang dan tertawa kecil. perlunya memberi batasan terhadap sebuah hubungan menjadikan hal itu lebih baik kedepannya untuk mencegah yang tidak-tidak. sepersekian jam percakapan itu selesai direpresentasikan antar tangan lalu beranjak. 

kelar dari lapak buku tadi saya dan A sengaja istirahat dan menikmati orang yg sedang dalam perjalan, tak lupa ia membuka awal percakapan yg panjang dengan kalimat : ada apa di sepanjang jalan wilis? 
ia melanjutkan bahwa banyak kenangan terlewati sebab kepada salah satu manusia ia membawakan konsep sayang yg dimiliki, begini ; 
A : manusia jika sudah cinta terhadap pasangannya apapun akan diberikan bahkan termasuk benda berharganya. oleh karna itu aku dulu kesini dan memberikan dia buku sebab yg berharga bagiku adalah buku. 
disclaimer  (temanku ini pembaca berat 😂)
aku menjawab lalu bagaimana selanjutnya apakah kejadian itu seperti yg kau harapkan? 
A : begitulah manusia pasti mereka akan lebih memilih yg realistis bisa dikatakan ketika A memberikan semua uangnya yg tersisa anggap saja 20K tapi ada salah satu pria memberikan 50K tapi pria tadi masih memiliki 50K lainnya. benar saja wanita memilih 50K karna ia lebih banyak, tetapi dia tidak menyadari bahwa A memberikan semuanya sedangkan pria satunya hanya memberi setengah. 
bukankah itu manusiawi? menentukan pilihan sekiranya sesuai akan kemauan kita. jawabku. ia membalas
A : benar itu manusiawi, tapi aku sedikit iba terhadapnya. aku kehilangan orang yg aku cintai, tapi dia kehilangan orang yg mencintainya. 
aku terdiam dengan semua kemungkinan" yg aku buat sendiri. lalu ia menambahkan : biarlah sudah pelajaran tetaplah pelajaran artinya tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa memberi hikmah. 
aku sudah terhibur dan diobati oleh buku-buku sehingga tidak lagi perlu takut untuk menghadapi yg oleh kebanyakan org dijadikan sebagai ketakutan terbesar. 

mungkin bagi sebagian pembaca hanya terkesan cerita biasa, tetapi maksud dan tujuan sebenarnya tulisan ini adalah menunjukkan bahwa kita tidak bisa memandang satu hal hanya dengan kaca mata hitam, sesekali gunakanlah kaca mata radiasi 😂 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer