Resiprokal
Resiprokal atau balas-berbalas, kejar-mengejar.
Sebuah kata yg cukup menarik dalam kehidupan sehari-hari tentunya tak sekedar untuk dijadikan ilmu pengetahuan pun sebagai indikator menganilisis kemanusiaan.
Setiap manusia pasti memiliki sisi plus minus terlepas dari apapun itu (status) ada beberapa percakapan saya dengan teman-teman yg bisa dibahas serta saya publikasikan disini karna setelah ditindak lanjuti manfaatnya lebih besar jika di komparasikan dengan mudharatnya.
Katakanlah si A dan B dua insan dengan kepribadian masing-masing (sikap dan sifat) sudah semestinya ada semacam tingkah laku/etika dari seseorang yg kita kenal maupun tidak membuat kita menentukan penilaian, adapun penilaian itu menuju ke plus atau minus tidak masalah, garis bawahnya adalah sisi plus dan minus. Meskipun saya sendiri sudah sedikit tau tentang konsep ini tapi terkadang entah kenapa juga terbawa suasana.
Ketika si A melakukan salah kegiatan dan ternyata menurut si B hal tersebut tidaklah menyenangkan/tidak satu linier dengan si B sehingga dari ketidaksukaan itu menimbulkan sedikit percikan sensi, analogi itu pasti dirasakan oleh semua orang, jelasnya sporadis sisi plus kita tidak bisa menerima sisi minus orang lain, dan hal-hal seperti itu yg bisa membuat manusia selangkah masih berdiri diatas egonya.
Artinya memang ada beberapa hal kecil maupun kejadian yg jika kita telaah justru berdampak besar, walaupun memang tidak mudah dalam merealisasikan konsep di atas setidaknya selangkah lebih dekat dengan kesadaran diri agar tidak selalu menuruti ego.
Kembali pada laptop, Resiprokal sebagaimana kejelasannya di atas kurang lebih seperti dua orang yg sama-sama menjadi subjek, bukan lagi subjek-objek atau objek-subjek.
Subjek - objek bisa di contohkan seperti; a dan b sebuah pertemanan atau hubungan, ketika salah satu dari mereka menjadi subjek dan objek tentunya tupoksi mereka juga berbeda, karna yg namanya subjek bertuju kepada objek dan objek adalah finalitas bagi subjek. Subjek pasti membutuhkan objek dalam menyelesaikan/merealisasikan/menganalisis/ atau semacamnya yg mana hanya subjek saja yg ditekan untuk terus berkelanjutan sebagai pelaku. Contoh org berpacaran ketika pria menjadi subjek maka ia harus berjuang (materi, waktu, jiwa) itu tidak berlaku bagi objek hanya untuk subjek saja. Sedikit banyaknya ketimpangan itu akan terjadi jika terus berkelanjutan.
Objek - subjek; Hal serupa juga terjadi pada objek-subjek katakanlah seorang wanita sebagai objek (disukai) pria, sebagai objek tentunya dia memiliki hak dalam memutuskan ke arah mana dia akan lari dan di kejar oleh subjek yg secara tidak langsung harimau tidak boleh sedetikpun mengalihkan pandangan dari mangsanya. Tanpa mempertimbangkan resiko dan meminimalisir kejadian yg tak sesuai sesekali objek melakukan hal yg sengaja menekan subjek sebab ia tau bahwa matanyapun tak sedetikpun berpaling darinya. Contoh kecil dalam ruang lingkup seorang pria/wanita yg hanya di manfaatkan materinya saja.
Kedua pernyataan tersebut sangat berbeda dengan topik yg saya beratkan yaitu; Resiprokal.
Dalam sebuah hubungan ataupun pertemanan resiprokal ini sangat diperlukan bukan untuk menggurui karna tau, tapi hanya sekedar berbagi konsep dan pengetahuan agar sedikit mengisi kekosongan yg masih besar. π«Άπ»
Jika pasangan/pertemanan sudah merealisasikan resiprokal (subjek-subjek) artinya tidak ada ketimpangan dalam hal apapun, mengapa? Why? Limada?
Hal itu terjadi karna dua predikat sama-sama sadar mengenai status yg ia bawa, saling balas - berbalas, kejar - mengejar sehingga ketimpangan antara kedua belah pihak itu tidak ada mengingat bahwa keduanya komplementer.
Nah begitulah kira-kira mengenai konsep resiprokal mungkin terdengar biasa saja dan tidak istimewa tapi setiap hal kecil akan menjadi sangat berharga jika kita menguasainya πΉ
Terimakasih untuk yg sudah membaca ✌π»
Semoga senantiasa dalam lindungannya , dilancarkan segala urusan, dan semoga qobul hajat dengan semua do’a-do’anya.
Robbanaa….
Jangan lupa komentar ya π
Terimakasih sekali lagi.
Komentar
Posting Komentar