Hal tersirat
Sudah sekian lama aku tidak kembali menulis celoteh hidup, bukan tak mau lagi melainkan banyaknya hal yang memang sedang mencegah untuk menuaikan sedikit pikiran.
Baiklah eksordium yang cukup kontras untuk permintaan maaf dengan telatnya tulisan kali ini.
Mungkin ini sebuah pengalaman yang sudah lumrah dirasakan semua orang, tapi saya akan kembali menuliskannya, oleh sebab ketertarikan yang ada di baliknya (Makna tersirat).
Banyak sekali cara ataupun metode dalam menggali sumber pengetahuan, ilmu, dan pengalaman. Namun kadang ada sumber yang tidak kita ketahui, sumber disini bukan yang dimaksud sebagai rujukan atau referensi melainkan paradigma atas pengetahuan, ilmu, dan pengalaman tersebut.
Pengetahuan memiliki 2 paradigma, yaitu hushuli dan hudhuri.
Hushuli : Paradigma versi hushuli ini bisa kita dapatkan dimana - mana dan universal, artinya jika seorang bernama A bisa maka salah satunya atau si B juga bisa, Contoh : si A membaca buku Dunia shope katakanlah, lalu ia memberi tau bahwa ia mendapat banyak pengetahuan baru di sana, kemudian si B juga membacanya, dan ternyata benar bahwa ia mendapat banyak pengetahuan setelah membaca buku tersebut. Artinya Pengetahuan, dan ilmu yang di motori oleh Hushuli sifatnya universal, semua orang bisa mencobanya .
Hudhuri : Paradigma hudhuri ini justru paradoksal (bertolak belakang) dengan paradigma hushuli, Artinya pengetahuan, ilmu, dan pengalamannya hanya bisa di rasakan/peroleh oleh orang yang menjalankannya, Contoh : si A mendaki ke gunung ini, kemudian ia bercerita pengalamannya kepada si B, kemudian si B tertarik setelah mendengar cerita si A. Akhirnya si B dan teman lainnya juga mendaki gunung tersebut, tetapi setelah ia turun pengalamannya beda dengam ceritanya si A tadi. Artinya pengetahuan, ilmu, dan pengalaman hudhuri ini sifatnya hanya tertuju pada satu objek atau tunggal/pribadi.
Begitu juga dengan hidup yang dikelilingi oleh berbagai macam lingkungan dan kesegaran, didalamnya terdapat 2 pengetahuan di atas, jadi seketika ada salah seorang yang kecewa atau terkena musibah lalu orang lain mengatakan bahwa aku dulu lebih dari dia tapi tidak sampai segitunya, nah tindakan tersebut merupakan suatu tanggapan yang diatas dasari oleh Hushuli, sedangkan objek yang kecewa/terluka itu mengalaminya dengan metode Hudhuri, begitulah timbulnya berbagai perspektif di masyarakat, dan akhirnya berbeda argumen, kemudian saling merasa benar sendiri, bukan kah jika menyelesaikan persoalan harus dengan 1 kesepakatan dalam 1 konsep ? Baru seketika ia sudah selesai bisa saja lanjut ke dalam konsep berikutnya, jadi tak perlu banyak mengeluarkan kata - kata bijak, jika sudah beda konsep maka juga beda jawaban.
Ada luka yang tak bisa di ungkapkan dan ada bahagia yang tak bisa di jelaskan.
#Abcd.fvck
Komentarnya ya jangan lupa ;)
Komentar
Posting Komentar