Epiphenomenon
Hello ges welcome bek to may blokspot:v
Sedikit tulisan kali bakal ngebahas soal apapun yang jadi unek-unek dalam buah pikir saya, terkait pendidikan dan misteri di balik institusinya . Cusss...
Sebenarnya saya khususkan pembahasan ini dalam institusi sekolah tinggi (Ranah kampus) karna pada dasarnya sekopah tingkat SLTP/SLTA mungkin masih kurang pengalamannya.
Pengantar dari tulisan ini saya mulai dengan kata "Pendidikan" apa itu sebenarnya dan misteri apa yang ada di baliknya ?
Berbicara soal Pendidikan pasti tidak lepas dari Ki Hajar Dewantara selaku bapak pendidikan beserta Tut Wuri Handayani-nya, selengkapnya bisa di Google.
Pendidikan dalam ranah kampus menyimpan berbagai misteri dari sudut regimentasinya yang tertulis/tidak. Sejak jaman orde baru (kepemimpinan soeharto) selaku rahim dari NKK dan BKK pendidikan sudah mulai tidak baik-baik saja, entah pembaca sudah mengetahui/tidak selebihnya saya sekedar menegasikan kembali hal ini.
Lahirnya NKK, BKK (Normalisasi kehidupan kampus, Badan koordinasi Kemahasiswaan) kembali tercium setelah lama ia lahir dan di kuburkan, permasalahan pertama mengenai regimentasi/aturan yang ada dalam ruang lingkup kampus, tak sedikit aksi atau suara pernyataan mengenai "Gondrong bukan Kriminal" . Tidak pernah ada aturan tertulis bahwa mahasiswa tidak boleh gondrong/rambut panjang, lalu mengapa ada permasalahan dengan rambut itu ? Tak lain adalah para pengajar/dosen yang seringkali menilai bahwa hal tersebut tak layak, mengapa demikian ? Karna dosen/para tenaga kerja institusi masih menggunakan "EGOISME"-nya dalam menilai sesuatu, yang dilihat tidak bagus maka tak masuk kriteria "Baik" dalam perspektifnya, terlihat menjadi "oposisi" di cap kritis dan kiri, konsekuensinya adalah "NILAI" begitu pendidikan ternyata, menyangkal dan paradoksal terhadap pernyataan dosen merupakan sebuah tindak ketidak benaran, Kerassss, pendidikan itu Kerasss, tidak salah jika dalam "Pendidikan kaum tertindas" ada pernyataan : pendidikan hanya di jadikan lahan sebagai ladang untuk mencari keuntungan.
Hal itu benar adanya, pendidikan sudah melenceng dari prinsip dan namanya, ia di kotori oleh penggunanya, kekuasaan selaku pengajar justru menjadi tuhan dalam dunia pendidikan, tak hanya tuhan di langit tapi juga di bumi, tercatat dalam sejarah baru kemarin hari "Joe bidden" mencalonkan "wanita" sebagai hakim pengadilan federal, sedangkan di Negeri Wakanda. Wanita (Mahasiswi) justru jadi objek pelampiasan hawa nafsu yang di bayar oleh "Nilai".
Mengkritik dosen adalah tindak kriminal melenceng dalam nilai etika dan di cap sebagai mahasiswa/i yang tidak bermoral, padahal dosen juga manusia, yaa namanya manusia pasti memiliki salah dan dosa, jika menjadi dosen hanya karna pintar maka setan lebih pintar dari manusia, akan tetapi titik permasalahannya tentang "Etika", bukankah dosen/pengajar yang baik sudah selesai dengan ajaran terhadap dirinya sendiri, terlebih saat ini dalam ruang komunikasi "Online" menanyakan berita mengenai ini dan itu justru mendapat respons yang tidak senonoh, barangkali sibuk, atau banyak urusan ? Kalau bicara sibuk dan banyak urusan membalas pesan tidak sampai 10 menit atau setidaknya memberi penjelasan kedepannya dan waktu yang pas, bukan malah membalas se enaknya, Ada yang mengatakan : "puncak pengetahuan adalah etika"
Lalu bagaimana dengan pengajar/dosen yang justru malah tidak memiliki etika, Keraaassss, Pendidikan itu Keraaasss.
Nilai menjadi acuan indikasi mahasiswa itu ber predikat baik, padahal Nilai bisa di beli, dan di dapat dengan berbagai macam intervensi atau bahkan yang berkewajiban tak mengurus ikhwal itu, malah di lempar kepada yang lain, entahlah saya juga bingung !
Bedanya Mahasiswa sekarang dan dulu yaitu : Mahasiswa dulu mengharumkan nama Kampus, sedangkan sekarang Mahasiswanya di harumkan nama Kampus.
Tentang : Saya yang tak pernah selesai dengan saya sendiri. (Ranah Pendidikan)
#Abcd.Fvck
Setidaknya ada indikasi untuk mahasiswa bukan material melainkan etika dan intelektual.
BalasHapusMantap Bung
Terimakasih bung 🙏
Hapus