Multi-Tunggal
Pembahasan lumayan sensitif, jika anda tidak bisa menelaah sebaiknya jangan membaca dari pada salah faham !!!
Awal mula saya ingin mendahuluinya dengan kata "Sensi", sebuah pergeseran premis akan saya usahakan se terang mungkin agar ketidak fahaman tidak kita pelihara.
Sensi itu memiliki dua makna, pertama yaitu Sensitif dan yang ke dua Sensible.
Sensitif cenderung lebih berpihak pada sebelah kiri dalam garis linier sedangkan sensible sebaliknya.
Menariknya adalah bagaimana pergeseran premis ini terjadi, hal yang tak pernah saya pikirkan juga sebelumnya, tepat ketika dalam suatu "Klinik" barulah gagasan tersebut muncul.
To the point.
Dalam pembahasan ini saya menyajikan SEXS sebagai bahan analisis, jika kita kaji dengan sensitif hal tersebut adalah perhewanan yang terjadi dengan konsep tertentu.
Namun jika kita kaji sebaliknya yakni menggunakan sensible justru hal tersebut melahirkan suatu idea yang menakjubkan, sebab tujuan dalam melakukan sexs adalah klimaks, meskipun hanya terbilang sekedar pergesekan antar kulit, justru hal itulah yang menjadi indikator kenikmatan yang tiada tara (katanya) .
Implisitnya adalah, Otak antar otak selalu memikirkan tentang Klimaks (Tujuan) akan tetapi iya lupa bahwa puncak kenikmatannya itu ada pada sebuah proses (Pergesekan) hal itulah yang membedakan sejauh mana kita menggunakan kacamata kita dalam melihat cermin.
Sehingga dari konotasi di atas saya mencoba untuk ber spekulasi,
"Saya ingin memperkosa buku" katakanlah.
Dalam kacamata yang anti radiasi hal itu adalah konyol, sebab bagaimana mungkin hasrat saya di luapkan terhadap buku, yang bahkan tidak memiliki potensi untuk melakukan sebuah sexs, sedangkan jika di tembak dengan kacamata yang redup hal tersebut juga sedikit lucu, sebab penglihatannya juga redup jadi apa yang dilihat tak nampak jelas, berbeda dengan yang menggunakan kacamata transparan, walaupun tembakan atau pandangannya yang vulgar justru dia membentuk suatu pola mindset bahwa memang benar tidak semua yang transparan itu bisa ditembus .
Bagaimana tidak, buku adalah jendela dunia .
Jika ingin mengenal dunia maka kita harus membaca buku.
Sisihkan sedikit sentimen bahwa buku adalah lawan jenis yang menawan, ia tidak berpihak kepada siapapun, dengan siapapun dia mau melakukan sexs, jalankan nalar kita bayangkan saja buka bajunya (Buka bukunya) lihatlah betapa indah tubuh itu (Rangkaian kata) keluarkan etosmu untuk memperkosanya (membacanya) nikmatilah pergenjotan itu (memahaminya) baru setelah itu kita akan sampai pada puncaknya (pengetahuan), dan terakhir setelah terjadi sexs itu maka timbullah yang namanya hamil (hasil) lihatlah seberapa banyak pengetahuan yang sudah kita sampai dan berikan (sharing), hal ini tidak ditujukan dalam ajang mencari eksistensi melainkan sebuah Konsep yang di buat dan untuk di eksekusi bukan hanya sekedar menumpuk konsep saja, ."berbicara dengan gaya, namun melampaui balon, warnanya banyak tapi isinya angin "
Entahlah saya yang terlalu ngawur atau bagaimana, ya namanya juga manusia di karuniai berpikir, maka ini suatu representasi dari nikmat tuhan yang tidak saya sia-sia kan .
Hal yang perlu di garis bawahi iyalah jangan sekedar mampu membuat gagasan namun tidak di realisasikan, karna nikmat dalam berhubungan sexs adalah ketika pergesekan itu terjadi, dan pada saat pergesekan itulah istilah "PROSES" yang coba saya jabarkan dengan konsep seperti di atas, yaitu pergeseran premis dari sensitif menjadi sensible.
"Nikmatilah! Beri jalan pikiran kotormu"
#SLAVOJŽIŻÈK
#Abcd.Fvck
Keren poll 😇 jadi lebih menghayati bacanya :)
BalasHapusWkwkwkwk, Jadi menghayati juga sama analoginya
HapusKenapa harus dengan analogi sexs dan pergesekan nya kang kann jadi sagne🥲
BalasHapusMasyaAllah 😂😂😂
Hapus