Apa itu ada

Pertama-tama tulisan ini akan membuat anda merasa muak dan lesu, namun terbelakang akan menyadarkan anda, percayalah brodi.

Sebelum kita beranjak jauh, pernah anda berpikir apa itu " ada " . Jikalau kita benar mendasari ada tidaklah tiba-tiba ada begitu aja, namun ia memiliki historis yang memukau sekali jika kita hendak dan berkenan dalam menulusurinya.

Kali ini saya menjadikan heidegger sebagai paradigma dalam membahas apa itu " ada " meski banyak sekali tokoh-tokoh yang lain, penjelasan lengkapnya bisa dibaca dalam buku : Mistik keseharian heidegger

Heidegger merupakan seorang filsuf yang berber pada masanya, dia mengarungi lautan ada dan selanjutnya, dengan metode fenomenologi sebagai alat untuk menyebrangi lautan itu, dari pernyataan seorang heidegger melahirkan 3 sifat ada, yaitu

1. Ada yang menampakkan diri mirip sesuatu, contoh : Ada orang yg berjalan dari jauh seperti orang berinsial A, nah ketika makin dekat dan ingin ku sapa, ternyata bukan A.

( seolah-olah mirip )

2. Menampakkan tapi sebagai bentuk lain, sementara jati dirinya bersembunyi dibilik bentuk lain tersebut.

Contoh : Orang yang sedang jatuh cinta. Seseorang telah terhasut akan sikap dan sifat cinta, dia telah menghamba pada euforia (Rasa Nyaman) dan dengan euforia tersebut dia melakukan ketersituasian, perhatian, menjadi pribadi yang berubah atau lain-lain, begitulah cinta itu ada yakni bersembunyi dibilik bentuk lain, yang biasanya dikata kalo cinta harus berjuang dan bla...bla...bla...

3. Ada yang tidak tampak.

Contoh : Angin, angin itu diyakini bahkan dirasakan eksistensialnya akan tetapi ia tidak diketahui tampak atau bentuknya.

Setelah mengatahui sedemikian sifat ada, lalu bagaimana dengan pernyataan rene descartes :

" Cogito ergo sum " (Aku berpikir maka aku ada)

Pernyataannya demikian, dia berpikir maka dia ada, implisitnya ( makna tersiratnya ) keberadaan dia membuat dia berpikir, dan dengan pemikiran dia, dia menyadari keadaannya. 

Sedangkan pertanyaannya adalah keadaan yang menentukan pikiran atau pikiran yang menentukan keadaan ?

Bersimpang siurlah kita dalam mencari implisitnya dari pernyataan dan pertanyaan tersebut, yang mana jawabannya adalah "BEFINDLICHKEIT" (ketersituasian) yang mana hal tersebut menyadarkan kita bahwa * Merasa * berkaitan dengan * Berada * dan berada, berkaitan pula dengan * Terdapat *. Dimana kita berada disitulah suasana hati kita disituasikan, maka dari situlah juga cara kita menala situasi hati.

Paradigma ini hanya sebagai bahan untuk memberi masukan otak dalam mengenali sifat ada, bahwa ada tidak serta merta ada begitu saja, baiklah komen dan saran tetap saya prioritaskan dalam tulisan ini.

#Abcd.Fvck

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer